Tapi lama-kelamaan akan ada penemuan baru. Misalnya, penelitian yang di Barus membuktikan bahwa pada abad IX di daerah seperti Barus sudah mengalami globalisasi karena ada hubungan dengan seluruh Asia. Orang dari Timur Tengah, India, dan kemudian Cina datang ke Barus sehingga globalisasi bukan hal baru untuk daerah tersebut.

Sabtu, 28 November 2009

Culture: Relations between China and Arabs are the result of individuals

Smoke from hookah pipes and the aroma of lamb skewers on the grill mix in the chilly autumn air as men talk loudly in Arabic over pulsating music beneath the neon glow of restaurant signs.


The scene could be unfolding in any number of cities in the Middle East -- but this is eastern China.

Yiwu, a city of two million people 300 kilometres (190 miles) south of Shanghai, has become a crossroads on what has been dubbed a "New Silk Road" between China and the Middle East, attracting more than 200,000 Arab traders each year.

"China is becoming easy -- people who cannot speak Chinese or English can come here now," Ashraf Shahabi, 29, said between greeting customers at his Al-Arabi restaurant, one of a dozen Arab eateries lining Yiwu's Exotic Street.

China made it easier for Arabs to obtain visas, said Ben Simpfendorfer, Royal Bank of Scotland's chief China economist, who has studied Chinese-Arab ties.

Yiwu officials went further. To promote their massive wholesale market, they helped set up a mosque, encouraged Arabic language schools and allowed the city to become home to an estimated 3,000 Arab permanent residents, officials said.

Shahabi witnessed the city's transformation. He left Jordan in 2002 to work in his uncle's restaurant, then one of Yiwu's few Arab establishments.

He learned Mandarin, started a trading business and married a Chinese woman, who converted to Islam.

Afghans were the first to stream into Yiwu, followed by even more Iraqis, also escaping the US-led invasion.

The number of traders from the Arab world then started to rise alongside surging world oil prices and growing spending power in the Middle East, he said.

"It's all because of Futian," Shahabi said, using the local name for Yiwu's sprawling small goods wholesale market.

"It's the biggest market in the world. The quality's not so good, but the price is very good."

The market covers four million square metres (43 million square feet) -- and is growing. Yiwu officials boast it would take a year to visit all of the more than 62,000 booths, even if you spent just three minutes at each one.

On a mural welcoming visitors to Futian, bearded men with scimitars on their belts trade pelts to Chinese for embroidered silk, but an enormous range of modern goods awaits today's traders.

The halls are a catalogue of everything "Made in China" -- more than 1.7 million products are sold here, from ukeleles to bunny backpacks, fake iPods to fake eyelashes, netbooks to non-stick frying pans, women's shoes to power tools.

"It's really a country," said Lebanese trader Bashar Wehebe, surveying the shopping mall-like atmosphere while waiting for a sample of a spoon.

Yiwu caters to traders like Wehebe, who buy in quantities of tens instead of tens of thousands like Carrefour or Wal-Mart.

The 28-year-old first came to Yiwu five months ago -- this is now his third trip, with the range and quantity of goods he buys increasing with each visit.

He planned to fill three containers with up to 500 different items to sell back home.

Traders rely on Chinese guides and translators -- many of them Arabic speakers -- to help navigate and negotiate.

More than 60 percent of Yiwu businesses look for Arabic language skills when hiring, according to a labour survey reported by a state newspaper in November 2008.

"Many of the local schools offer Arabic classes," said Ma Chunzhen, the Beijing-appointed imam at Yiwu's mosque.

The mosque, a converted factory, was donated by the municipal government in 2004, and foreign and Chinese Muslims paid to renovate it, he said.

"We started with one hundred Muslims coming for Friday prayers. Then we had one thousand, two thousand and now it's six thousand. It grew very quickly," Ma said.

"Yiwu emphasises the fact that relations between China and the Middle East are very much the result of individuals," said Simpfendorfer, who has documented China's growing ties to the Arab world in his book "The New Silk Road".

"There is a tendency to assume commercial relations between China and the Middle East are all about oil ... that's not the case."
Read more...

Jumat, 27 November 2009

Menyelusuri Laut Menuju Masjid

Tadi pagi umat Muslim berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan Salat dul Adha. Bagi warga yang tinggal di pelabuhan di Jakarta, mereka harus menggunakan rakit menuju masjid.

Read more...

Rabu, 25 November 2009

NU Peringati 100 Tahun KH Zainul Arifin

Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta, Rabu (25/11) malam, menggelar peringatan 100 tahun KH Zainul Arifin, ulama dan tokoh nasional yang nyaris terlupakan.


Hadir dalam acara yang dilaksanakan Lajnah Taklif wan Nasyr (LTN) NU tersebut Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Selain itu, hadir Ketua DPR Marzuki Alie, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok, dan Ketua F-PKB DPR Marwan Jafar.

Dalam sambutannya, Hasyim mengatakan, peringatan tersebut harus dijadikan tonggak generasi saat ini untuk meneladani kepahlawanan mantan Wakil Perdana Menteri dan Ketua DPRGR di era Bung Karno itu.

"Ketulusan dalam perjuangan dan moral perjuangannya perlu dan harus kita teladani," katanya.

Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan, meski merupakan tokoh besar, Zainul cenderung terlupakan, seolah tenggelam oleh tokoh NU sezamannya maupun yang belakangan, yang lebih dikenal.

"Padahal, sejarah mencatat beliau tokoh pertama NU yang menduduki jabatan eksekutif, yakni wakil perdana menteri di Kabinet Ali Sastroamijoyo," katanya.

Zainul juga merupakan tokoh NU pertama yang menduduki jabatan legislatif sebagai Ketua DPRGR. "Semoga ini tidak sekadar romantisme tapi menjadi teladan semua anak bangsa," katanya.

Hal senada dikemukakan Gus Dur, jasa Zainul terhadap negara sangat besar dan patut diteladani. "Warisannya yang masih diperingati sampai saat ini adalah Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan kabinet masanya," ujarnya.

Zainul juga mendirikan dan memimpin Laskar Hizbullah, salah satu milisi yang memainkan peranan penting di masa menjelang dan awal kemerdekaan.

Nama Zainul Arifin, yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional itu, juga terkenal saat peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno pada tahun 14 Mei 1962.

Saat itu, ketika sedang shalat Idul Adha, seorang anggota pemberontak kelompok Kartosuwiryo mencoba menembak Bung Karno, tetapi meleset dan mengenai Zainul.
Read more...

Sabtu, 14 November 2009

Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hemeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri

Peniadaan nama Hamzah Fansuri dan jejaknya dalam sejarah adalah sesuatu yang disengaja, dan merupakan kelanjutan dari perintah pemusnahan karya-karyanya yang dipandang penuh dengan ajaran-ajaran yang berbahaya dan menyesatkan.


Tidak hanya itu, Hamzah Fansuri juga dikejar-kejar sebagai buronan istana, dan banyak pengikutnya yang dibunuh. Nama Hamzah Fansuri muncul ke permukaan oleh murid-muridnya yang setia melalui upaya penyalinan karya-karyanya yang berhasil diselamatkan dari tragedi pembakaran.

Pertanyaan yang muncul kepada kita setelah tiga abad kematiannya adalah: “Benarkah ajaran tasawuf Hamzah Fansuri itu sesat? Tidakkah apa yang ia alami sama dengan apa yang dialami Al-Hallaj yang hukuman matinya lebih merupakan peristiwa politik?”
Read more...

Jumat, 13 November 2009

PSPM Padang Masiang Libas Sahata Pandan 4-0


Kesebelasan tuan rumah PSPM Padang Masiang, Kecamatan Barus berhasil mengalahkan Sahata FC dari Kecamatan Pandan dengan skor 4-0 dalam lanjutan turnamen sepakbola piala Bupati dan ketua PSTT di lapangan Merdeka, Barus (11/11).


Pertandingan yang dipimpin wasit dari Pengcab PSTT Saiful Lubis ini berlangsung cepat dan keras. Kedua kesebelasan tampak saling melakukan serangan, walaupun kondisi lapangan pada hari itu sedikit kurang bagus. Karena saat kick off dimulai, hujan terus mengguyur Kota Barus. Namun keduasebelasan masih mampu menunjukkan tehnik–tehnik permainan, sehingga membuat penonton yang mencapai ribuan orang memadati lapangan merdeka Barus bersorak-sorai kepada kedua tim.

Pada babak pertama, tuan rumah PSPM Padang Masiang di bawah asuhan Samsudar Meha dan Amasnyah mendominasi permainan. Terbukti pada menit ke-19 Streker PSPM Candra nomor punggung 19 berhasil membobol gawal Sahata FC dari Kecamatan Pandan yang dikawal oleh Ammar melalui sundulan kepala setelah menerima umpan tarik dari rekannya. Ketinggalan 0-1 tidak membuat anak asuhan Muhammat Pasaribu ini menjadi putus asa. Serangan demi serangan dilancarkan untuk menyamakan kedudukan. Namun karena ketatnya barisan bawah pertahanan PSPM, tidak mamu membuahkan hasil untuk menyamakan kedudukan.

Lewis pemain asal Sibolga yang menjadi bintang dalam pertandingan ini berhasil menambah keunggulan bagi tuan rumah pada menit ke 30. Setelah terjadi kesalahpahaman antara pemain bawah sahata FC langsung disambar Lewis. Kemudian, sekitar dua menit, Lewis kembali menambah keunggulan untuk tuan rumah sehingga kedudukan berubah menjadi 3-0 tim tuan rumah PSPM Padang Masiang. Menjelang babak pertama usai, Sahata FC berusaha terus untuk memperkecil kekalahan melalui serangan-serangan balik yang dibangun dari sektor kiri, bahkan sekitar menit ke-40, gawang Fauzi nyaris kebobolan. Hingga turun minum, kedudukan sementara 3-0 untuk kemenangan PSPM Padang Masiang.

Pada babak kedua, kedua kesebelasan sudah mulai nampak kelelahan. Karena sejak babak pertama, hujan secara terus mengguyur lapangan Merdeka Barus, sehingga membuat pola permainan sedikit menurun dan tidak bisa berkembang. Namun, sesekali anak-anak dari PSPM melakukan serangan kearah gawang Sahata FC Pandan. Begitu juga dengan anak-anak Sahata FC melalui serangan-serangan balik untuk memperkecil kekalahan terus dilancarkan. Akan tetapi, karena rapatnya pertahanan barisan bawah PSPM sehingga upaya yang dilancarkan oleh anak-anak Sahata FC dapat dimentahkan. Bahkan sebaliknya pemain PSPM Padang Masiang kembali memperbesar kemenangan melalui tendangan keras pemain nomor punggung 19 Lewis pada ke-58. Sehingga kedudukan menjadi 4-0 dan hingga babak kedua berakhir PSPM menang telak 4-0 atas sahata FC.
Read more...

Kamis, 12 November 2009

Zulkaidah br Harahap: Ratu Opera Tilhang dan Serindo

Zulkaidah br Harahap), mantan maskot (ratu) opera Batak pimpinan Tilhang Gultom (1960-1973) dan Opera Serindo (1973-1985), menggambarkan perjalanan kehidupannya sebagai seniman tradisi Batak dengan ucapan: Ngeri-ngeri sedap! Bermakna bahwa menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika.


Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit.

Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut membesarkannya tersebut.

Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.

Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim—seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu opera Batak—selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya.

"Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli, kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih ’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang. Pokoknya ramai," ujar Zulkaidah.

Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. "Semua ngerubungi aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti itu sering terulang di banyak tempat," katanya.

Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di tepi jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan, tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga kini masih setia menemani Zulkaidah.

Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik ketika memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian onang-onang (tentang adat istiadat) dan ungut-ungut.

Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu, Zulkaidah tak ubahnya bagai "ratu" yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung opera Batak.

Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian "karier"-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak, ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan.

Apalagi sejak suara beningnya mulai di-"rekam" dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai hidup di atas awan. Katanya, "Seperti melayang-layang. Ke mana-mana dijemput naik sedan."



Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih "melayang-layang" bila ada wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng.

Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989, masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya. Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat.

"Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia dan dari pemerintah," kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.

Dua sisi mata uang

"Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini. Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam," kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.

Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu "kelahiran"-nya pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.

Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.

Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego.

Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi, ternyata "dunia luar" sudah berubah. Penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan "pajak" tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan.

Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun 1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan.

Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah, ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak bagai sudah mengalir dalam darahnya.

"Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng," ujarnya.

"Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha.... Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian...." (Kenedi Nurhan, Kompas, Selasa 18 Desember 2007)
Read more...

barus_indonesia at Yahoo! Groups

Indonesian Islamic Philology

Info Bisnis Kalimantan Barat

Datang dan Saksikan Model Terbaru dan Keunggulan Mobil Nasional di:

Reportase

Teropong Kaca

Lokal

Kampung

Berita Barus

Loading...

Sekolah

Aeronotika & Astronotika

Forum Komunitas Teknisi Ponsel Indonesia

DARUR RACHMAD

Barus

Referal

BLOGGER CO.CC:Free Domain Get Chitika eMiniMalls Reviewmu.com
 

Copyright © 2009 by BarusTrade