Pernah menjadi bandar niaga bertaraf internasional

Dulu, harga kapur barus yang berasal dari Kota Barus, pantai barat Sumatra Utara, setara dengan emas.

Bahan pembuat obat dan pengawet mummi itu menjadi barang mewah bagi kaum raja di zaman Mesir Kuno. Anda mungkin tak mengira kalau kota kecil Barus yang berada di pantai barat Provinsi Sumatra Utara itu pernah berjaya dan termasyhur di seluruh dunia.

Popularitasnya bahkan sudah dikenal sejak zaman purba pada masa raja-raja Mesir Kuno. Mengapa Barus begitu dikenal luas di seantero penjuru dunia? Itu karena Barus memiliki kapur barus dengan mutu terbaik di dunia.

Bahkan ketika itu, harga sebongkah kapur barus setara dengan sekeping emas. Kapur barus menjadi barang mewah di kalangan raja-raja terkenal. Raja Firaun misalnya, ketika wafat sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi (SM) dibalsam dengan menggunakan kapur barus yang berasal dari kota Barus.

Berkat bahan pengawet itulah yang menyebabkan kondisi mayat Firuan relatif masih terjaga dengan baik sampai hari ini.



Bisa dibayangkan kalau mayat tersebut tidak dibalsam dengan kapur barus, mummi raja yang sangat kontroversial itu bisa jadi hancur ditelan zaman. Nilai ekonomi baru tidak sebatas sebagai bahan pengawet.

Lebih dari itu, kapur barus asal Barus juga sering dipakai sebagai bahan baku pembuat obat yang mujarab. Kejayaan Barus bukan sebatas omongan buah bibir semata. Berbagai sumber ilmiah dalam aneka bahasa seperti Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa, nama Barus sudah dikenal.

Sebut saja Ancient Map Ptolem Table XI of Asia, lalu the Muhit karya Laksamana Celebi (Turki), dan laporan orang-orang Arab, seperti Ibnu Kordahbeh, juga menorehkan Barus sebagai kota perdagangan internasional yang sangat ramai.

Maka tak mengherankan kalau penjelajah Portugis Tome Pires dalam Suma Oriental mencatat, orangorang Parsi, Arab, Benggali, Keling, dan Gujarat berdatangan ke Barus untuk menjalankan kegiatan bisnisnya.

Barang-barang yang diperdagangkan antara lain kapur barus, emas, sutera, benjoin, lilin, madu, dan lain sebagainya.

“Barus pada awal abad ke-16 adalah kota pelabuhan yang ramai dan makmur,” catat Pires. Saking maraknya roda perekonomian tersebut, Diego Homen pun sudah membuat peta kota Barus di pantai barat Sumatra.

Itu dilakukan pada tahun 1558. Sebelumnya, pada abad ke-2, gubernur dari Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, Claudius Ptolemaus, telah membuat peta Barus sebagai bandar niaga internasional.

Bangun dan Jatuh Lalu, bagaimana Barus dapat menjadi kota terhebat dan akhirnya tenggelam dalam percaturan ekonomi global? Menurut Ahli Sejarah dari Universitas Sumatra Utara, Fitriaty Harahap dalam buku Ekspedisi Geografi Sumatera Utara 2009, awal mula kampung Barus kesohor tak terlepas dari peran Tuan Kadir, seorang putra daerah yang gemar melakukan invasi ke daerah-daerah pedalaman Barus.

Di Air Busuk misalnya, ia bertemu dengan orang-orang Hindu. Pertemuan ini memberi inspirasi kepada guru Marsohot untuk mendirikan kampung. Mereka lalu membangun dua kampung sekaligus. Satu kampung berada di pinggir pantai yang bernama Barus.

Satu lagi di pedalaman yang diberi nama Lobu Tua atau Kota Tua. Raja lalu dipilih untuk memimpin dua kampung tersebut.

Tercatat, raja pertama yang berkuasa adalah Guru Marsohot. Setelah itu, jabatan raja berturut-turut diserahkan kepada Tuan Kadir Raja Bangsawan, Raja Nafus, Raja Makudum, dan Raja Manursah.

Masa-masa keemasan itu ternyata mengundang decak kagum bangsa Eropa. Awalnya mereka memang datang hanya untuk berdagang.

Namun lama-lama, secara diam-diam mereka berniat menguasai kota yang makmur itu dengan berbagai cara. “Bangsa Gergasi (Portugis) adalah yang pertama kali menyerang kerajaan Barus yang ketika itu dipimpin oleh Raja Manursah,” tutur Fitriaty.

Pertempuran itu tentu saja tidak seimbang karena pihak kolonialis selain memiliki persenjataan lebih kuat juga punya strategi perang yang lebih matang. Kekalahan itu memaksa Raja Manursah memindahkan pusat kerajaannya ke Buriang dan Guguk.

Keberhasilan Portugis menguasai Barus membuat bangsa lainnya juga memiliki niat serupa. Masuknya bangsa barat seperti Inggris, Prancis, dan Belanda, menyebabkan raja-raja yang berkuasa di kota Barus tidak dapat lagi mempertahankan wilayahnya sebagai kota perdagangan dan pusat pemerintahan.

Ambisi Belanda Belanda adalah bangsa yang paling ambisius menguasai kota Barus melalui kongsi dagangnya yang terkenal dengan nama VOC. Kaum kolonialis ini mampu merebut hegemoni perdagangan di Barus pada tahun 1618.

Sejak saat itulah VOC mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.

Dalam tulisan Kontelir Belanda, Deutz pada tahun 1875, kota Barus telah menjadi pusat pemerintahan Belanda di Tapanuli dengan nama Onderafdeeling Barus.

Daerah ini berbatasan dengan Onderafdeeling Singkil, pedalaman Tanah Batak, dan Dairi. Seiring dengan itu, Barus pun menjadi magnet bagi para pendatang baru dari berbagai etnis seperti Batak Toba, Aceh, Mandailing, Minangkabau, Melayu, dan lain-lain.

Berbagai suku inilah yang menjadikan mereka sebagai penduduk asli atau disebut sebagai masyarakat pesisir pantai barat Sumatra Utara.

Tidak mudah memang bagi kolonialis Belanda itu untuk menguasai kantong-kantong perdagangan di kota Barus. Pasalnya, raja-raja lokal masih menguasai wilayah otoritasnya. Selain menghadapi raja-raja lokal, Belanda juga harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu berada di Barus.

Ketika VOC bangkrut, seketika Barus pun meredup. Maklum, demi alasan efi siensi, Belanda memindahkan pusat perdagangan dari pantai barat Sumatra Utara ke Sibolga. Akibatnya, Barus mengalami kemunduran drastis.

Kota itu sepi dari kegiatan bisnis. Sibolga yang ketika itu masih sepi dari pengaruh raja dan bangsa lain dipilih sebagai penggantinya. Kolonialis itu terbilang pandai menata kota. Sibolga pun sukses menjadi pusat perdagangan di kota baru tersebut.

Sebaliknya, bagi Barus yang ditinggalkan. Kota itu mati. Bahkan menjadi kota yang tidak pernah ada. Padahal, sejak zaman Purba hingga sebelum kedatangan kolonialis, Barus telah kesohor di seluruh penjuru dunia.

Bandar perdagangan berkelas internasional yang menyimpan sejuta kenangan itu akhirnya tak berbekas lagi. Tragis dan memilukan memang. Tapi itulah sejarah.
b siswo
Share on Google Plus

About Redaksi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :