Ternyata Kekuasaan Itu Obat Perangsang yang Manjur

BANYAK orang yang berambisi menjadi tokoh, menjadi terkenal, berkuasa dan terhormat. Ternyata menjadi orang yang menjabat kekuasaan bukanlah sebuah perkara mudah. Kekuasaan dapat menjadi obat perangsang yang manjur dan tentunya membuat hidup semakin susah bila tidak mampu dikendalikan.

"Mengapa Jenderal David Petraeus mengambil resiko merusak karirnya yang meroket dan bahkan digadang-gadang menjadi calon presiden di masa depan, dengan melakukan skandal dengan penulis biografinya?," tulis Ian H. Robertson, penulis di psychologytoday.com, Selasa (13/11).

Menurutnya, wewenang dan kekuasaan yang dimiliki oleh Petraeus semakin luas ketika dia menjabat sebagai direktur badan intelijen CIA. Dan kekuasaan itu bak obat perangsang yang bersifat psiko-aktif, yang paling kuat mendorong peningkatan nafsu seksual. Henry Kissinger pernah mengeluarkan istilah untuk itu; 'Kekuasaan adalah aprodisiak'

"Presiden JF Kennedy konon berhubungan seks dengan wanita baru hampir setiap hari masa kepresidenannya, dan bahkan Franklin D Roosevelt memiliki affair yang banyak," katanya.

Jenderal yang sukses ini, tiba-tiba melakukan skandal dengan wanita yang lebih muda yang selalu bertemu dengannya untuk menulis biografinya, dan sudah berakhir beberapa bulan yang lalu. Fakta ini menunjukkan, katanya, kesempatan yang tercipta dengan mudah, memainkan peran dalam mendorong terjadinya hubungan temporer itu. Dan saat itulah enzim aprodisiak kekuasaan ini melumpuhkan kemampuan kontrol diri.

Menurutnya, seks dan kekuasaan sama-sama terkait, saat keduanya menyebabkan lonjakan hormon testosteron pada pria dan wanita. Hormon inilah yang meningkatkan aktivitas kimia pada 'jaringan kesenangan' di otak. Semua yang dirasakan sebagai kesenangan atau penghargaan, seperti hubungan seksual, diaktifkan dari jaringan ini, dan kekuasaan merupakan aktivator yang paling kuat.

Tampaknya, bagi orang yang dihormati, pejabat maupun pemimpin, harus mewaspadai lonjakan karir, baik di sipil, militer maupun organisasi masyarakat, yang memiliki kekuasaan yang lebih besar. Karena lonjakan itu dapat memicu peningkatan 'nafsu makan' pada jaringan kesenangan, sehingga satu piringpun tidak cukup. Gejala ini menghinggapi semua karakter manusia, mulai dari yang normal maupun yang mulai tidak normal seperti, Alexander yang agung.

Robertson menyarankan, seorang pemimpin harus bisa menikmati kekuasaan tanpa menjadi rusak karenanya. Dan orang itu harus mampu mendapatkan keuntungan dari kualitas struktur saraf yang menakjubkan itu untuk menjadi pemimpin yang diidamkan.

Peningkatan birahi itu terjadi secara natural dan tak dapat dihindari, sehingga banyak orang yang jatuh karena tak mampu mengendalikannya, saat menghadapi bujukan lawan jenis, yang lebih muda dan menarik. Apalagi, saat ini bukan jamannya lagi kembali ke masa lalu seperti mempunyai selir atau menjadi kasim.


Share on Google Plus

About Redaksi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :