Pemuda Demo, Dukung Raja Yordania

IBUKOTA Amman, Yordania, diguncang demonstrasi menyusul pencabutan subsidi minyak yang mengakibatkan naiknya harga-harga. Namun di lain pihak, para pemuda merasa sudah bosan dengan demonstrasi tersebut dan menyatakan mendukung Raja Abdullah II.

Dengan slogan “Enough Destruction, Enough is Enough,” para aktivis yang bergabung di Youth Coalition for Loyalty and Allegiance melakukan aksi demonstrasi di Amman mengajak warga untuk menghindarkan kerusakan yang lebih jauh. Aksi ini menjadi demonstrasi tandingan bagi demonstrasi lainnya yang juga berlangsung di hari yang sama sebagaimana dilaporkan jordantimes.com, Jumat (30/11).

Beberapa tetangga negara ini sebenarnya telah mengungkapkan keinginan mereka untuk membatu mengatasi krisis energi. Selain sumbangan minyak gratis 100.000 barel dari Irak, Perdana Menteri Abdullah Ensour menyatakan Arab Saudi telah bersedia memberikan bantuan sebesar US$487 juta dengan US$125 juta ditransfer dengan segera.

Selain itu, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Yordania, Kuwait dan Arab Saudi juga bersedia mendepositokan masing-masing US$250 juta di Bank Sentral Yordania (CBJ) yang akan dibelanjakan sebagai investasi di tahun 2013. Secara keseluruhan, negara-negara Teluk telah berkomitmen untuk menginvestasikan US$5 miliar di Yordania di berbagai proyek dalam waktu dekat.

Krisis energi dimulai saat pemerintah mencabut subsidi  menyusul keputusan pemerintahan baru Mesir untuk mengurangi pasokan gas murah ke Yordania yang mengimpor hampir 97 persen kebutuhan energinya. Hal ini megakibatkan negara ini harus merogoh kantong untuk menambal pembengkakan subsidi sebesar US$2,5 miliar pertahun atau sekitar US$7 juta per hari untuk gas saja.

Akibat pencabutan subsidi itu, harga minyak untuk trasportasi publik akan meningkat 14 persen, sementara minyak atau solar untuk pemanas rumah tangga akan naik 28 persen serta harga tabung gas akan naik 54 persen menjadi US$14 dari US$9,18. Harga bensin beroktan 90 juga akan naik 15 persen dari US$0,98 per liter menjadi US$1,12, sementara solar dan minyak tanah akan naik menjadi US$0,97 per liter dari harga US$0,73.

Defisit anggaran Yordania juga meningkat mencapai US$3 miliar dengan utang luar negeri meningkat 27 persen menjadi US$27 miliar yang mencapai rasio 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Beban Yordania semakin berat karena negara ini masih menampung sebagian besar pengungsi dari Palestina, Irak dan belakangan dari Suriah.

Akibatnya, pergesekan antara warga asli dengan keturunan Palestina yang sebagian besar menjadi pedagang yang mendominasi perekonomian juga tak terhindarkan. Patut tak dilupakan pula, negara, yang mempunyai income per capita US$1.411 ini, juga menampung sekitar 300.000 pekerja asing dan sebagian besar keluarga mengimpor Pembantu Rumah Tangga (PRT) dari berbagai negara Afrika dan Asia, termasuk dari Indonesia.

Dalam sebuah kesempatan, Iran dilaporkan bersedia memasok minyak selama 30 tahun secara gratis ke Yordania dengan imbalan para wisatawan rohani Iran diperbolehkan mengunjungi tempat wisata di sana. Khabar ini langsung memicu polemik yang mendalam dan membuat Yordania menolak tawaran tersebut melalui juru bicara pemerintah, Samih al-Maaytah kepada CNN Arabic. Iran kemudian membantah telah memberikan tawaran seperti yang dilaporkan.

Jordan sendiri beberapa kali telah berusaha untuk mandiri dalam bidang energi. Pilihan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklirpun digulirkan mengingat negara ini mempunyai sumber daya alam berupa uranium. Namun usaha ini diperlambat oleh Israel dan Amerika Serikat sehingga membuat negara ini menghentikan rencana itu. Sementara itu pembangunan pembangkit tenaga surya yang digagas Jordan Renewable Energy Society’s (JRES) juga belum terlaksana.

Sumber

Share on Google Plus

About Redaksi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :