Facebook Mulai Masuk Politik Zimbabwe


SEBAGAIMANA negara-negara lain di dunia, media sosial seperti Twitter dan Facebook mulai memasuki politik Zimbabwe. Salah satunya dengan menjadi sindiran politik kepada dua pihak yang sedang berseteru di negeri Afrika itu

"Saya mengikuti halaman'Baba Jukwa' di Facebook selama beberapa bulan sekarang, atas saran dari seorang pengusaha dan teman di Harare yang yakin bahwa ini adalah sesuatu yang istimewa, sesuatu yang penting - sebuah tulisan orang dalam asli tentang pertempuran faksional dan korupsi di partai Zanu-PF milik Presiden Robert Mugabe," tulis Andrew Harding di BBC, (24/5).

Laman Facebook ini menjadi media untuk menggoyang posisi Robert Mugabe. Dan tentunya ini membuat marah pendukung presiden itu. Sebagai tandingannya pendukung Mugabe membuat laman 'Amai Jukwa' untuk mendukung pemimpin mereka dan telah mendapat dukung 18.000 like.

Facebook menjadi salah satu media 'senjata rahasia' antara kedua belah pihak, pendukung Mugabe dan Perdana Menteri Morgan Tsvangirai. Perbedaan pendapat keduanya bahkan sampai penentuan tanggal pemilihan umum.

"Pada hari Senin, juru bicara Movement for Democratic Change (MDC) milik Tsvangirai menolak laporan 'propaganda Zanu (PF)' bahwa MDC mencoba membatalkan pemilu karena pihaknya tidak siap," tulis situs bdlive.co.za, Selasa (4/6).

Facebook sebagaimana media sosial lainnya saat ini telah menjadi salah satu media wajib yang harus dimiliki para politisi dan entitas politik. Sebelum di Zimbabwe, penggunaan Facebook sebenarnya telah dilakukan di tempat lain seperti di Amerika Serikat, khususnya untuk menggaet pemilih pemula.

"Dengan sebuah pesan saja disampaikan secara elektronik setiap hari menjelang pemilu," kata peneliti media sosial James Fowler di situs echcrunch.com yang meneliti karakteristik pengguna Facebook di AS tahun 2012, "Facebook dapat menambah sepertiga juta pemilih."

The Huff Post 11/6/2012 menuliskan dalam artikel 'Young Voter Turnout High On Facebook's 2012 Election Map' betapa Facebook telah menjadi motor utama yang dilakukan politisi Amerika Serikat untuk 'merayu' hati para pemilih muda dengan meng'klik' button vote di laman Facebookk mereka.

Walaupun begitu diakui, facebook hanya menjadi 'alat pancing' bagi pemilih pemula untuk meraih ketertarikannya, hubungan yang lebih personal akan membuat lebih memastikannya untuk memberika suara.

"Jadi apakah 20 kali klik pada button 'i'm voting' di Facebook berarti kita dapat mengharapkan pemilih pemula pada tahun 2012? Tidak," tulis The Huff Post. Ditambahkan, cara yang paling efektif untuk meraih suara pemilih pemula atau mendorong mereka ke pemungutan suara, menurut lembaga studi Circle di Universitas Tufts, adalah dengan berbicara dengan mereka.

Berbicara dan menyapa kaum muda di Facebook bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Menurut studi Nature yang dilansir situs ibtimes.com, 2012, Facebook dapat 'empat kali lipat memperkuat pesan'kepada pemilih pemula antara umur 18-35 tahun.

Selain itu, eksperimen penggunaan Facebook dalam politik di Timur Tengah juga telah dilakukan sejak tahun 2009 di Iran yang waktu itu belum diantisipasi oleh pendukung Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Hampir saja hasil pemilu hancur berantakan.

Penggunaan Facebook, Twitter dan media sosial lainnya, oleh pihak oposisi, bahkan menghasilkan pertarungan yang tidak seimbang di Mesir dengan tumbangnya Presiden Husni Mobarak. Begitu juga di Tunisia.

Setelah dua presiden itu tumbang, barulah kantor-kantor pemerintahan sibuk membuat laman Facebook untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Tidak ketinggalan lembaga seperti angkatan bersenjata. Dalam hal ini, Facebook tidak lagi berguna untuk menggaet pendukung atau pemilih muda, tapi untuk menstabilkan keamanan.

Maka tidak heran, pasca tumbangnya rezim-rezim yang kadaluarsa itu, banyak demonstran di jalanan yang berusaha mengucapkan terima kasih kepada Facebook dan Twitter yang telah membebaskan mereka dari belenggu komunikasi yang diciptakan penguasa yang dikenal luas dengan istilah Revolusi Facebook itu.

Tidak berhenti di situ, al-Tsaurah al-Fiisbukiyyah juga menjadi sebuah kekuatan utama untuk men-check and balance pemerintahan Presiden Mohammed Morsi saat ini. Hal itu diungkapkan Hadi Al Mahdi di situs Ahram pada 5 Maret 2013, dalam sebuah artikel berbahasa Arab, "al-Tsaurah al-Fiisbukiyyah Ma Zalat Mustamirrah".

Namun, semakin mudahnya akses informasi dan teknologi saat ini, membuat banyak 'penumpang gelap' yang membuat rusuh. Kedewasaan pengguna dan pengambil kebijakan dalam urusan seperti ini sangat dibutuhkan agar arus komunikasi terjadi dengan nuansa manusiawi.

Banyak yang memperkirakan, Arabs Spring di Suriah menjadi hancur lebur karena disusupi pengguna media sosial yang mempunyai agenda lain. Seorang pengguna blogger yang mengaku bernama Amina Abdallah Arraf al Omari meng-upload gambar-gambar palsu di blogger yang kemudian disebarluaskan melalui Facebook di awal-awal demam Arabs Spring 2011 di Suriah.

Pengguna itu, yang mengaku pula sebagai wanita lesbian, dapat melakukannya karena dengan begitu mudahnya dia dapat berbahasa Arab sehingga seakan-akan bagian dari rakyat Suriah. Penguasaan bahasa tulisan di internet saat ini sangat mudah dengan adanya fitur Google Translate.

Terakhir baru ditemukan bahwa itu merupakan permainan Tom MacMaster, seorang warga AS yang kuliah di Skotlandia. Walaupun MacMaster, telah meminta maaf, namun rakyat dan pemerintah Suriah sudah terlanjur saling bunuh-membunuh satu sama lain. Sebagaimana diceritakan CNN dalam artikel 'Fake Syrian blogger: 'Everything blew out of control.'

Revolusi Suriah tidak lagi Facebook Revolution atau Twitter Revolution tapi sudah menjadi Revolution of Perception. Apakah Zimbabwe akan seperti Suriah atau AS? semoga saja Facebook jadi berkah bukan musibah bagi negara Afrika itu.
Share on Google Plus

About Redaksi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :