Pergulatan Kaum Optimisme dan Pesimisme di Indonesia

PERGULATAN optimisme dan pesimisme terjadi di berbagai tema kehidupan, termasuk ekonomi. Keduanya saling mempengaruhi individu baik itu pada level masyarakat, civil society, birokrat, dosen, pengamat, pejabat, pengambil kebijakan maupun praktisi usaha.

Salah satu contoh dari fenomena ini dapat terlihat dari respon seseorang mengenai fakta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, kemampuan memproduksi mobil nasional, mobil listrik dan lain-lain. Ada yang optimis ada juga yang pesimis. Respon ini, tentunya, tidak mencakup respon dari politisi, atau yang mempunyai tendensi politik karena sangat dipengaruhi oleh 'motif' sesuai dengan naturalnya.

Martin Seligman, penulis buku "Learned Optism' menjelaskan pergulatan itu, pada salah satu artikel di psychologyforbusiness.com; orang pesimis kelihatan lebih akurat dibandingkan yang optimis, dalam menggambarkan iklim ekonomi, berdasarkan informasi saat itu. Walaupun begitu, kata dia, kalangan optimislah yang membangun dan  mengembangkan situasi itu, sehingga terus memastikan peningkatan produktivitas dan kerja bagus pada level yang tertinggi dan terus terinspirasi untuk memajukan ekonomi.

Tanggapan seorang pesimistis, biasanya, terlihat pada tendensi mengorek sisi negatif fakta itu dan cenderung untuk mengajak berpikir muter-muter dan kelihatan tak maju-maju seperti sebuah lingkaran setan sambil menyodorkan solusi alternatif yang kelihatan masuk akal, namun tidak mungkin dilaksanakan. "Jika anda seorang pesimis, anda melihat dunia seburuk-buruknya," tulis motivator Ebbi Thomas, di situsnya, effective-mind-control.com

Pergulatan kaum optimis dan pesimis juga seru di Amerika Serikat. Kaum pesimis melihat, ekonomi negara itu sedang mengalami kehancuran akibat majunya negara lain seperti Korea, China maupun Rusia. Namun kalangan optimis melihat, posisi negara itu tidak tergoyahkan. "Dari sisi optimisme, Amerika tetap tidak tergoyahkan... dan Amerika hampir pasti terus mempunyai pilihan yang lebih baik daripada yang lain," tulis Michael Medved dalam artikelnya "Optimistic or Pessimistic About America" di commentarymagazine.com pada  31 Agustus 2011.

Terkadang respon pesimisme berwujud lunak seperti tak acuh, skeptis atau kesal namun ada juga yang keras seperti menularkan pesimisme dengan paksa. Dari fakta ini, Sepertinya keseimbangan kedua isme ini harus diciptakan untuk keharmonisan. Sebagaimana sistem dunia mempunyai 'power balance' dan 'keseimbangan ekonomi', maka dalam masyarakat pun harus dijaga 'keseimbang psikologi' atau 'keseimbangan emosi'.

Jumlah mereka yang optimis harus tetap seimbang dengan yang pesimis. Misalnya, frekuensi penyebutan fakta yang dapat dikira menjadi sebuah 'pujian' optimisme harus tidak boleh melebihi jumlah makian yang sarkastis yang berkembang. Bila optimisme yang lebih dominan, kalangan pesimisme akan merasa menjadi 'oppressed society' dan ini menjadi bad news.

Kalangan optimisme harus berbesar hati menunggu kesediaan kalangan pesimisme untuk bergerak maju bersama. Kalau perlu mundur dahulu untuk menyamai langkah, berjalan bersama-sama. Keduanya mempunyai sisi negatif. Selain yang akan dijelaskan Benjamin Studebaker di bawah ini, sisi negatif optimisme adalah munculnya efek yang tidak terduga yang belum tentu bisa diantisipasi, misalnya dalam waktu yang lebih singkat, mobil listrik besileweran di jalan-jalan, kemacetan bertambah. Tiba-tiba income perkapita menanjak naik, pembantupun jadi kaya, setiap rumah tangga akan kelabakan cari stok PRT ke luar negeri dan lain-lain. Ada yang tidak rela, ada yang tidak siap; pergulatan itu terus berputar.

Pandangan yang hampir mirip, tapi tidak sama, dari penulis Benjamin Studebaker dalam 'The Political Pitfalls of Pessimism and Optimism' di benjaminstudebaker.com pada 10 Oktober 2012, tentang politik di AS, menggambarkan pentingnya kesimbangan optimisme dengan pesimisme.

"Pesimisme dan optimisme, dalam jumlah besar, keduanya dapat membuat masyarakat tidak mampu membuat adaptasi yang diperlukan sesuai perubahan waktu. Sementara pesimis meragukan kemampuan kita untuk memecahkan masalah dan meremehkan solusi sampai kita tidak lagi repot-repot berusaha, optimis menyangkal bahwa ada masalah di tengah-tengah kita. Dalam kedua kasus itu, kita akhirnya memilih sedikit mengerjakan dibandingkan apa yang ingin kita kerjakan atau harus dikerjakan, dan masyarakat kita menderita karenanya. Apa yang dibutuhkan adalah keseimbangan-pesimisme untuk mengidentifikasi masalah, tapi optimismelah yang menjadi kekuatan solusi untuk mengatasi masalah tersebut."


Sumber

Share on Google Plus

About Redaksi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :