Rasio Gini dan Ekonomi Timpang: Konglomerat Harus Sadar Diri

PARA cukong dan konglomerat melalui sayap media dan partai yang mereka miliki saat ini berusaha mencari kambing hitam mengenai timbulnya rasio gini yang timpang dan ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia.

Rasio Gini: Merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membandingkan luas antara diagonal dan kurva lorenz (daerah A) dibagi dengan luas segitiga di bawah diagonal. Kegunaan: Untuk mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk. Keterangan : Rasio Gini bernilai antara 0 dan 1. Nilai 1 menunjukkan complete inequality atau perfectly inequal, di mana seluruh penduduk menempati satu lokasi di suatu negara dan tidak ada penduduk di lokasi lainnya. Nilai 0 menunjukkan perfectly equal, yaitu penduduk terdistribusikan sempurna di seluruh wilayah suatu negara. Jadi, semakin besar nilai rasio konsentrasi Gini, semakin besar ketidakmerataan antara distribusi penduduk dan jumlah lokasi.


Tentu kambing hitam yang paling gampang disalahkan adalah pemerintah. Padahal semua orang juga tahu pemerintah saat ini telah tersandera menjadi badut-badut para konglomerat dan cukong melalui tangan-tangan siluman di berbagai bidang.

Para konglomerat dan cukong, yang belakangan ini saja sangat tidak rela masyarakat jelata Indonesia sejahtera melalui kenaikan UMR (Upah Minimum Regional) yang dituntut para buruh, harus rela untuk melepaskan monopoli dan oligopoli mereka yang mengkungkung dan menghancurkan ekonomi rakyat.

Ekonomi pribumi paska reformasi tidak menanjak dan ini menjadikan rasio gini semakin timpang. Kesenjangan sosial yang timbul akibat ketimpangan ekonomi malah dipermaikan sebagai isu oleh para cukong dan konglomerat pemlik media-media besar itu.

Kalau ini tidak berubah, kalau kalangan pribumi semakin jarang masuk dalam jajaran penguasa ekonomi maka rasioa gini akan semakin parah dan itu menjadikan kebencian terhadap para cukong dan konglomerat penyedot darah bangsa ini akan memuncak. 
Share on Google Plus

About Redaksi

Kota Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia. Ibukota kecamatan ini berada di kelurahan Padang Masiang. Kota Barus sebagai kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M, dan disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :